Artikel

WAKTU BERKUALITAS UNTUK ANAK

Children spell love with T – I – M- E. (Anak mengartikan cinta dengan “waktu”). Kalimat bijak ini menggambarkan, betapa pentingnya orangtua menciptakan waktu berkualitas untuk anak, karena bagi anak, waktu berkualitas dengan orangtua adalah wujud cinta.

Berapa jam waktu Anda dalam sehari untuk Si Kecil? Duapuluh empat jam, 12 jam, 8 jam, atau cuma 2-4 jam karena Anda ayah-ibu yang sibuk bekerja? Berapa pun jumlah waktu yang Anda miliki bersama anak di rumah, pertanyaan penting berikutnya adalah, apakah waktu tersebut berkualitas?

Tak semua orangtua bisa menciptkan waktu berkualitas saat bersama anak karena untuk itu ternyata ada seninya. Menurut Psikolog Pendidikan Anak Prof DR. Utami Munandar, waktu berkualitas dalam konteks parenting atau ilmu pengasuhan anak adalah waktu dimana orangtua dapat menyampaikan perhatian, kasih sayang dan memberikan pendidikan pada anak-anak mereka. Setiap orang tua berkewajiban menciptakan a very quality time ini, terutama bila mereka ingin melihat anak-anak mereka tumbuh dengan baik. “Kebutuhan akan waktu berkualitas ini semakin urgent saat anak berusia balita, karena pada usia tersebut terjadi pertumbuhan fisik, psikologi, dan intelektualitas tercepat, sehingga orangtua perlu memberikan stimulus memadai agar perkembangan anak optimal. Stimulasi ini tentu harus diberikan melalui kebersamaan antara orangtua dengan anak,” demikian Utami.

Kualitas Tak Mesti Banyak

Utami yang Guru Besar Fakultas Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia menjelaskan, kualitas adalah ukuran mutu, bukan jumlah. Jadi, waktu yang berkualitas tak mesti selalu “banyak waktu bagi Si Kecil”. Jumlah waktu 2-4 jam sehari pun sudah memadai untuk menciptakan sebuah kualitas pertemuan yang baik. “Karena bila orang tua “banjir waktu” tapi tidak memberikan manfaat apa pun bagi anak, atau anak acuh tak acuh saat ada orangtuanya, kebersamaan pun jadi kurang bermanfaat,” jelas Utami.

Seperti apa waktu yang berkualitas? Menurut Utami, salah satu ukurannya adalah waktu dimana saat bersama orangtuanya, meski tidak melakukan apa-apa. anak merasa aman, nyaman, terlindungi, dapat berbagi dan mengungkapkan apa pun yang ada di benak mereka. Akan lebih baik lagi jika di saat itu anak belajar sesuatu dari orangtua. Apa pun, meski cuma sepele seperti “Mengapa burung bisa terbang?”
Waktu berkualitas pun ditandai dengan keberhasilan menjalin hubungan yang harmonis – meski anak hanya bertemu dengan orangtuanya 2-4 jam per hari – dimana bonding atau ikatan orangtua dengan anak cukup kuat, tetapi tidak menjadikan anak kelewat bergantung. “Jadi, anak bisa mandiri tetapi dia yakin orangtuanya adalah tempat kembali paling aman,” ujar Utami.

Waktu yang berkualitas pun bukan cuma bisa dinikmati anak, tetapi orangtua juga merasakan manfaatnya. Melalui waktu itu, orangtua dapat melepaskan semua ketegangan yang dirasakan saat bergumul dengan pekerjaan atau masalah hidup, sehingga pikiran dan hatinya kembali fresh, dan anak menjadi penghiburan yang baik.

Sayangnya, menurut Utami, meski semua ayah-ibu memiliki insting sebagai orangtua, tidak semua dibekali kemampuan menciptakan waktu berkualitas bersama anak. Ini tak ada hubungannya dengan karakter, tingkat pendidikan, atau kondisi sosial-ekonomi seseorang. Ini hanya masalah willing atau kemauan, karena jika memang mau, orangtua bisa kok, melatih dirinya piawai menciptakan waktu berkualitas dengan anak. “Kesibukan di luar rumah seharusnya juga tidak jadi alasan bagi orang tua untuk memberikan “seadanya” bagi anak,” ujar Utami, seraya melanjutkan, kata kuncinya adalah komunikasi yang baik.

“Saya banyak mendapati kasus ibu berhenti bekerja karena ingin punya banyak waktu bersama anak. Tetapi setelah itu terjadi ternyata tak ada artinya karena saat bersama anak ibu tidak banyak berkomunikasi, baik komunikasi secara verbal (kata-kata) maupun non-verbal (sentuhan, ekspresi, gerak-gerik) Waktu ibu tidak digunakan untuk bergaul dengan anak-anaknya, tapi digunakan untuk kegiatan lain seperti belanja, mencoba resep baru, membenahi rumah, nonton TV, arisan, jalan-jalan, ngobrol di telepon, berbagai hal yang selama ini tidak ia dapatkan karena sibuk bekerja di kantor. Karena itu jangan kaget bila Anda menemukan anak-anak ibu full time house wife, ternyata memiliki kepandaian atau keterampilan di bawah anak-anak dari ayah-ibu bekerja,” demikian Utami.

Pilih Kegiatan yang Tepat

Sebetulnya, semua waktu yang diberikan orang tua pada anak-anaknya berpeluang menjadi berkualitas. Tanpa Anda sadari, keberadaan Anda di rumah saja pun bagi anak cukup membuat mereka gembira. Tapi sekedar gembira saja tidak cukup. Anak seharusnya mendapatkan manfaat lebih banyak.

Jika ingin mulai menciptakan waktu berkualitas bagi anak, yang pertama bisa kita lakukan adalah mengadakan waktunya dulu. Katakanlah, dalam sehari ada 4 jam waktu tersedia buat anak, pagi dua jam, malam dua jam. Mulailah dari sini, apa yang bisa kita lakukan di waktu tersebut? “Agar anak mendapatkan waktu yang cukup baik, ada baiknya orangtua tahu kegiatan favorit anak, minat, dan karakternya. Kadang orangtua mengira anak paling senang diajak pergi atau jalan-jalan, padahal sebetulnya anak cukup senang bermain balok atau main masak-masakan di rumah,” tutur Utami.

Acara ke luar, lanjutnya, memang dapat mengembirakan jika disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak memusatkan perhatiannya. Tapi jadwal acara keluar yang terlalu sering justru dapat menjadi beban baginya, karena melelahkan dan butuh penyesuaian diri terhadap lingkungan baru. “Ini juga tergantung dari usia anak. Jika anak masih batita atau balita, kunjungan ke tempat yang menurut Anda cukup bermanfaat seperti musium, kebun binatang, atau menonton sandiwara boneka, justru bisa membebani anak. Acara sederhana di rumah yang nyaman kadang kala lebih efektif dan fun, karena tingkat stresnya rendah dan tidak ada tuntutan.”

Utami tidak menafikan, memang banyak orangtua merasa berdosa meninggalkan anak lima hari dalam seminggu, sehingga saat week end mereka berusaha “menebus” dengan rencana jalan-jalan yang, di mata orangtua, pasti asyik.

Tetapi, katanya, kompensasi yang berlebihan bukan hal yang benar. Kebersamaan tidak harus dilakukan lewat cara meriah atau mahal agar dapat berarti. “Sarapan bersama, berbicang-bincang, berangkulan di sofa, pelukan setiap berpapasan, membacakan cerita, menggelitik anak, “perang” bantal, mandi bersama, keliling-keliling kompleks naik sepeda, ngerujak bareng, menemani anak menggambar atau bermain sambil sesekali bertanya atau menjawab pertanyaannya, melihat tetes hujan dari jemdela, ini adalah waktu berkualitas yang bisa diciptakan setiap saat, spontan, murah, dan mudah,” tandas Utami.

Dia menekankan, waktu yang berkualitas tidak perlu selalu dijadwalkan. Kegembiraan spontan justru berpotensi membuat semua pihak gembira. “Kegembiraan juga tak berarti harus bermain. Kebersamaan Anda bersama batita dapat terjadi ketika
dia “membantu” Anda basah-basahan mencuci mobil, menyiapkan makan,
merapikan gudang, atau membetulkan radio yang rusak.” Perlu juga memang, sesekali menciptakan waktu berkualitas khusus seperti menemani anak pergi tidur atau acara jalan-jalan yang sudah disepakati bersama. Ini lantaran, “Pada waktu-waktu khusus itu biasanya anak akan bersemangat dan lebih mudah diajak bercengkrama atau berinterasi,” jelas Utami.

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan orangtua saat bersama anak mereka menurut Utami adalah, buanglah rasa bersalah seperti “maaf ya, nak, cuma ini waktu yang bisa ayah-ibu berikan untukmu” atau “Oh, seandainya kita bisa sering-sering begini”, karena perasaan seperti ini justru akan mendorong orangtua menjadi tidak
Objektif, sehingga cenderung memanjakan dan menuruti semua kemauan anak.”

Jadi santailah sedikit, syukuri kebersamaan yang tengah dihadapi, nikmati waktu berkualitas Anda bersama si Kecil…

Kontak Mata, Kontak Fisik, dan Cerewet Sedikit…

Saat ini Anda sedang bersama anak di sebuah ruangan yang sama. Seperti apa kondisinya? Apakah Anda sibuk dengan telenovela yang sedang rame-ramenya – sehingga saking tak mau ketinggalan adegan Anda menghardik Si Kecil yang menghampiri minta dibuatkan gambar ikan, atau, meski Anda sedang nonton TV, Anda tetap memberi respon pada setiap kontak yang dibuat anak?

Jadilah orangtua yang responsif. Bahkan syukur-syukur bisa sekaligus kreatif dengan stimulus. Karena, menurut para ahli perkembangan, dua hal inilah yang dibutuhkan anak. Di usia mereka, anak membutuhkan banyak rangsangan untuk mengoptimalkan kecerdasannya sekaligus respon untuk memperkaya batinnya. Untuk itu orangtua tidak perlu ber-IQ tinggi. Cukup perbanyak kontak mata dengan anak (misal, menatapnya penuh kasih sayang, atau menatapnya penuh perhatian saat anak bicara), perbanyak kontak fisik (misal, menghadiahi anak pelukan atau belaian yang membuat jiwanya damai), dan sedikit cerewetlah karena lingkungan yang kaya bunyi dan ujaran akan mencerdaskan anak. (Mila Meiliasari)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Kategori: Keluarga

Pengin Jadi Penyiar ?


Modal Dasar jadi Penyiar Radio
Selamat datang kembali di blog Radio Suara Perwira Purbalingga. Kali ini kami tuliskan sedikit tips untuk menjadi penyiar yang handal.
Penyiar era sekarang ini lebih sulit karena Anda harus punya lebih dari sekedar golden voice (suara emas); Anda harus punya jiwa entertainer, harus mampu berekspresi secara flexible, harus terdepan mengikuti segala trend lifestyle & informasi lainnya. Dan lebih dari itu, harus siap untuk tampil di depan pendengar (tanpa mengeluh dan cengeng). Jadi kualifikasi apa yang harus ada pada diri penyiar?

Jawabannya antara lain:

Pertama, disiplinkan diri agar bisa selalu menghibur Audience :
Jangan berfikir untuk jadi Penyiar jika Anda sulit menepati janji dengan orang atau sering berganti mood setiap hari.
Kedua, kendalikan emosi:
Kalau Anda mengalami kesulitan untuk mengendalikan ekspresi diri karena mood Anda mudah berubah-ubah bagaikan cuaca, lebih baik Anda kerja di balik komputer ketimbang di studio siaran.
Ketiga, harus in-touch dengan apa yang sedang menjadi pusat perhatian Audience kita;
Dengan kata lain, kita harus “gaul” seperti mereka. Kalau ingin bekerja di radio otomotif, misalnya, biasakanlah diri dengan hobby mobil dan motor. Jika ingin menjadi pembaca berita di Metro-TV, biasakanlah mengkonsumsi berita setiap hari.
Keempat, harus terbiasa “disuruh-suruh” sesuai tuntutan klien atau program.
Dalam prakteknya tuntutan ketiga ini sangat bervariasi, misalnya Anda diberi jam siaran Minggu pagi, padahal Anda paling susah bangun pagi; harus mewawancarai seseorang yang Anda sangat tidak suka; dituntut memakai celana pendek saat jadi TV-host, padahal lutut Anda jelek; diminta diet drastis karena setelah melahirkan koq terlihat gemuk di kamera; dan berbagai contoh yang terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu.
Kelima, kalau Anda merupakan tipe orang yang cenderung membantah perintah atau setiap hari masih dibangunkan oleh Mama, maka sebaiknya Anda kerja di bank saja… atau bikin perusahaan sendiri. Apalagi tugas sebagai Penyiar menuntut Anda bisa memenuhi keinginan Audience, no matter what the conditions and no matter who the Audienc.

Tips jadi penyiar radio

Presenter radio diperlukan mengikuti era multimedia sekarang ini. Oleh sebab itu ada beberapa tips yang bisa bermanfaat untuk menjadi presenter radio khususnya presenter bidang news dan current affairs.
1. Wawasan mengenai peristiwa lokal, nasional dan internasional. Seorang presenter apalagi menyampaikan berita setiap hari.
2. Suara yang standar. Setiap orang memiliki warna suara. Temukan suara Anda dengan berlatih. Suara adalah perangkat penting dalam radio. Oleh karena itu menyadari pentingnya pita suara dalam diri seorang presenter merupakan hal esensial. Apakah warna suara ana bas, bariton atau melengking, semuanya masih memungkinkan tergantung dari radio yang akan dimasuki.
3. Otoritatif namun rileks. Radio adalah medium yang intim. Suara Anda perlu otoritatif namun terdengar akrab. Nada otoritatif itu bisa digambarkan sebagai suara yang akrab di telinga namun mengandung suasana yang lugas dan langsung. Dia tidak basa basi dan berpanjang-pangjang namun terdengar alamiah dan mengalir.
4. Semangat dalam menyampaikan informasi. Sikap antusias dalam menyampaikan informasi merupakan bekal sangat penting. Prinsipnya, jika Anda antusias karena kabar yang disampaikan sesuatu yang baru dan perlu diketahui pendengar maka sikap yang keluar dari suara Anda juga seolah-olah mengajak pendengar untuk mengikutinya. Sebaliknya jika Anda tidak ansusias suda dapat diguga pendengar pun malas mengikutiny.
5. Jadikan siaran Anda “your show”. Anggap ini adalah panggung Anda. Presentasi merupakan sebuah pertunjukkan. Anda harus menganggap sebagai sopir dan pengendali yang menguasai “panggung” siaran. Setiap nada, intonasi dan suara yang keluar dari diri Anda menjunjukkan bagaimana jalannya siaran itu seharusnya. Seperti halnya teater maka dalam penyampaian pun ada pembukaan, isi dan penudup. Ada nada suara tinggi, rendah dan menekankan. Semuanya disampaikan bukan dengan sikap membosankan.

Tips Lainnya:

1. Tenang. Suara bicara yang alamiah kadang-kadang terlalu cepat untuk pendengar oleh karena itu tenanglah suaranya dan perlahan-lahan menyampaikan informasi yang Anda sampaikan.
2. Buatlah setiap kata-kata itu berarti. Baca naskah dengan rasa percaya diri dan katakan setiap kata dengan tepat. Jangan mengakhiri kalimat tidak lengkap.
3. Bersikaplah seolah-olah Anda bicara kepada orang tertentu. Bayangkan Anda meneceritakan sesuatu kepada satu orang di dalam pikiran Anda.
4. Hindari rasa canggung dan gelisah. Nanti kedengarannya aneh di telinga pendengar.
5. Tersenyumlah. Mungkin ini terdengar baik, seperti Anda lihat sendiri kadang-kadang sikap tersenyum membuat suara lebih bersahabat.
6. Ingat suara Anda bagus seperti orang lain. Setiap orang bisa bicara lamban atau menyajikan dengan jelas tidak jadi soal apakah aksen anda tinggi atau rendah.

Semoga Tulisan ini bermanfaat buat anda yang ingin mengikuti jejak ribuan orang yang telah jadi penyiar………….!!!!!
(Dikutip dari berbagai media)//Hr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s