Purbalingga Ternyata Sentra Industri Jaman Purba

PURBALINGGA (RSP) – Jika selama ini di buku-buku sejarah hanya mengungkap Sangiran dan Pacitan sebagai pusat perkembangan purbakala, tampaknya Purbalingga perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan juga. Menurut Arkeolog Prof DR Hary Truman Simanjuntak, sekitar 3500 tahun yang lalu (+ 1490 SM) Purbalingga sudah menjadi sentra industri jaman purba. Hal ini dikuatkan dengan begitu banyaknya penemuan gelang, beliung dan tembikar yang terbuat dari batu.

“Purbalingga terutama di daerah Limbasari, Tipar Ponjen dan Onje, pada 3500 tahun yang lalu ternyata sebuah sentra industri yang cukup maju untuk memproduksi aksesoris seperti gelang batu, kemudian alat–alat rumah tangga seperti beliung dan tembikar batu. Saya yakin masih banyak sekali yang tersembunyi di Purbalingga,” jelas peneliti utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional saat memberikan paparan di depan puluhan guru-guru sejarah dalam Sosialisasi Arti Penting Warisan Budaya di Aula Disbudparpora Purbalingga, Kamis (4/11).

Truman mengaku kagum dengan kemajuan teknologi penutur Austronesia yang menjadi penduduk Purbalingga jaman itu. Memasuki jaman logam, penduduk Purbalingga masa itu juga sudah melakukan imitasi seperti membuat bajak dari batu, yang terinspirasi bajak dari logam.

Anehnya, meskipun banyak sekali artefak ditemukan tidak secuilpun ditemukan fosil manusia purba di Purbalingga. Kesimpulan sementara yang dianut para peneliti, lapisan sedimen tanah di Purbalingga terlalu asam yang mampu menghancurkan segala fosil organik baik itu manusia maupun hewan.

Meski demikian, Truman tetap berkeyakinan pasti akan ditemukan fosil –fosil itu, hanya dibutuhkan keuletan lebih untuk menggalinya. Minim Arkeolog Menurut Truman, Purbalingga sebenarnya telah menjadi pusat penelitian para arkeolog dunia sejak tahun 1110 Masehi. Pada masa sekarang penemuan-penemuan benda-benda prasejarah dan sejarah di Purbalingga terkendala minimnya tenaga arkeolog.

“Saya sebenarnya menginginkan putra Purbalingga ada yang menjadi arkeolog. Hingga saat ini saya pernah tahu satu orang mahasiswa Purbalingga yang mengambil arkeologi, namanya Aris. Tapi saat ini saya sudah tidak mampu menghubunginya,” jelas arkeolog yang telah melakukan penelitian arkeologi di Purbalingga sejak tahun 1981.

Mengapa harus putra asli Purbalingga? Menurut Truman ini penting mengingat begitu banyak kekayaan sejarah di Purbalingga yang butuh keuletan bertahun-tahun untuk mengumpulkan seluruhnya. Jika arkeolog itu berasal dari Purbalingga, harapannya temuan itu akan tetap di Purbalingga.

”Yang kita khawatirkan penemuan-penemuan itu dijual atau dibawa ke luar negeri. Kita akan kehilangan banyak kekayaan sejarah dan semakin sulit untuk mengungkap misteri dibalik penemuan-penemuan itu,” tuturnya. (cie/rsp)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s