SMA Negeri 1 Purbalingga Garap “Menuju Titik Terang”

Berita Purbalingga, 20 April 2010

Pengambilan gambar Menuju Titik Terang - (Foto : doc CLC)

PURBALINGGA (RSP) – Keinginan anak acapkali tidak berbanding lurus dengan orang tua. Apa yang dicitakan oleh anak, bukan apa yang diidamkan orang tuanya. Begitu seterusnya. Sehingga apapun yang dilakukan anak, selalu tidak tepat dan selalu salah. Mental mengekang orang tua, meski di jaman modern yang serba keterbukaan dan bebas pilihan ini, masih ditemukan sisa-sisanya.

Demikian tema film pendek fiksi yang tengah digarap anak-anak film SMA Negeri 1 Purbalingga. Selama tiga hari pengambilan gambar dengan jeda sepekan untuk menjalankan rutinitas ulangan tengah semester, mereka tetap bersemangat menyelesaikan karya berjudul “Menuju Titik Terang” hingga produksi usai.

“Syuting dilakukan setiap akhir pekan hingga larut malam. Capek tapi mengasikkan,” ujar Desi pemeran Ave di film tersebut. Tidak hanya pemain, yang juga melibatkan bapak dan ibu guru mereka, kru yang keseluruhan masih duduk di bangku kelas X pun tetap bersemangat meski hari-hari pengambilan gambar diwarnai hujan.

Di bawah bendera Masih Timur Film, pembuat film muda ini melanjutkan tradisi membuat film generasi sebelumnya. Setiap generasi mempunyai karakter dan gaya tersendiri dalam menghasilkan karya film.

Kegelisahan Penulis
Skenario “Menuju Titik Terang” ini ditulis oleh Elma Sulistiya Ningrum yang sekaligus menyutradarainya. Skenario film pendek ini berangkat dari salah satu cerita pendek (cerpen) yang sudah cukup lama ditulis Elma.

“Selain cerpen, cerita ini saya tulis juga dalam bentuk naskah drama. Namun, belum sempat dipentaskan, baru berhasil difilmkan. Kami bingung, karna di Purbalingga ruang untuk seni drama tidak seluas film,” ungkap Elma.

Sebuah karya adalah kegelisahan sang penulisnya, seperti halnya Elma, yang merasa gelisah dengan orang tua yang selalu memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Ia mengartikan orang tua tidak dalam arti yang sempit.

“Orang tua dalam cerita saya tidak terbatas yang ada di rumah. Tapi juga di sekolah. Kami kerap merasa terkekang dengan aturan-aturan sekolah tanpa kami bisa berbuat apa-apa. Dengan sekolah yang menuntut semua bidang bisa saja sudah satu wujud pengekangan,” tutur Elma.

Elma adalah salah satu contoh dari banyak contoh anak-anak sekolah di Indonesia yang merasa pemaksaan kehendak dari pihak orang tua. Apakah orang tua di rumah, sekolah, atau di lingkungan yang lain.

Sebagai anak muda yang progresif tentu sensitifitas terhadap apa yang terjadi di lingkungannya akan ditangkap dengan berbagai cara. Dan berkarya dalam bentuk apapun adalah salah satunya. Berkarya adalah cara bijak anak muda sebagai wujud pelampiasan dibanding cara lain yang negatif dan cenderung merugikan orang lain. (Hr-RSP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s