Korban Bencana Tanah Longsor dan Banjir Lumpur Direlokasi

Korban Bencana Tanah Longsor dan Banjir Lumpur Direlokasi

Purbalingga – Enam korban bencana tanah longsor dan banjir lumpur di Dukuh Karanganyar, Desa Gunungwuled, Kecamatan, Rembang, direlokasi oleh Pemkab Purbalingga. Warga dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, dan masih dalam satu dukuh. Relokasi menempati tanah bengkok desa. Bencana itu sendiri terjadi pada 6 Januari 2010 lalu.
Enam warga yang direlokasi masing-masing Darmanto, Painah, Niswadi, Minori, Tarmaja, dan Tunggal Purnomo. Untuk korban darmanto dan Painah yang masih satu kerabat ditempatkan pada satu kompleks, sekitar 50 meter dari lokasi bencana. Sedang empat warga lainnya, menempati lahan bengkok desa yang berjarak, sekitar 200 meter sisi timur lokasi bencana. Setiap kepala keluarga dibuatkan rumah semi permanen dengan atap asbes, dinding kayu, dan lantai cor semen. Ukuran per rumah 5 x 8 meter dan ukuran lahan pekarangan 8 x 12 meter.
Pembangunan rumah dilakukan secara gotong royong warga setempat dengan dukungan tenaga dari anggota TNI dan Polri. Setiap rumah yang dibangun senilai Rp 25 juta, pembiayaan sekitar 60 persen dari swadaya masyarakat termasuk tenaga kerja, dan biaya lainnya dari bantuan Pemkab serta organisasi lainnya. Untuk tahap awal, Pemkab memfasilitasi tanah berupa tanah desa, dan membantu pembiayaan Rp 5 juta per rumah.
Bupati Purbalingga Drs. Triyono Budi Sasongko, MSi mengemukakan, pihaknya menyatakan penghargaan atas kerjasama diantara warga yang guyub dalam membangun kembali rumah para korban. Berkat dukungan warga yang terus bergotong royong membantu warga lainnya yang tertimpa bencana serta dukungan dari anggota TNI/Polri, pekerjaan relokasi cepat terealisasi.
Panitia pembangunan relokasi rumah warga Hartoyo mengatakan, setiap rumah yang dibangun senilai Rp 25 juta. Dari jumlah tersebut, Rp 15 juta berasal dari swadaya masyarakat, dan sisanya bantuan dari Pemkab dan beberapa donatur seperti PD Owabong, Bazda dan bantuan kelompok masyarakat lainnya. Di kompleks relokasi, nantinya juga akan dibangun fasilitas umum seperti Mandi Cuci kakus (MCK), dan mushola. Fasilitas MCK   untuk memenuhi kebutuhan 22 jiwa dari enam KK korban.
Sementara itu Kepala Desa Gunungwuled Kusyono mengatakan, selain merelokasi rumah warga, pihaknya juga mengerahkan sekitar 500 warga dalam sehari untuk membuat bronjong di bekas lokasi bencana. Bronjong dengan volume 21 meter kubik dimaksudkan untuk menahan laju air yang bisa mengikis tanah ditepi sungai. Tidak hanya warga desa Gunungwuled yang ikut membangun bronjong, tetapi juga dibantu dari warga desa tetangga yang sudah masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara. Selain itu, siswa-siswi dari SMPN Satu Atap dan SDN yang berada di Dukuh Sipentul Gunungwuled juga ikut membantu mengangkut bebatuan.
Seperti diberitakan sebelumnya, banjir bandang dari luapan Sungai Pete menimpa enam rumah warga di Dukuh Karanganyar, Desa Gunungwuled. Enam rumah yang berada tidak jauh dari sungai itu luluh lantak akibat terjangan banjir lumpur dan tanah longsor. Tidak ada korban jiwa manusia dalam musibah itu, namun kerugian ditaksir mencapai Rp 300 juta. Selain itu, 6 KK (22 jiwa) harus kehilangan tempat tinggal.(y/Hr-RSP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s